Bentang alam kawasan karst di Gunung Kidul, Yogyakarta (Dok. Patricia Vicka).

Karst merupakan kawasan yang terbentuk dari batugamping. Karts batugamping merupakan fosil terumbu karang yang hidup pada jutaan tahun yang lalu. Indonesia memiliki kawasan karst yang luas yaitu mencapai 15,4 juta hektar dan tersebar hampir di seluruh pulau. Hal tersebut menunjukkan bahwa pulau-pulau di negara kita pada awalnya merupakan dasar laut yang mengalami pengangkatan dan pengerasan. Bentang alam kawasan karst memiliki ciri khas berupa adanya cekungan tertutup dan atau lembah kering dalam berbagai ukuran dan bentuk, terdapat sedimen lempung berwarna merah (terraros), jarang atau tidak terdapat drainase/sungai permukaan, serta adanya bentukan gua dari sistem drainase bawah tanah. Gua pada kawasan karst terbentuk akibat adanya proses pelarutan (karstifikasi) oleh air hujan dan air tanah. Akibat proses kritalisasi dan pelarutan tersebut maka terbentuk cekungan, celah, lorong, serta berbagai bentukan khas ornamen gua seperti stalagtite, stalagmite, pillar, straw, helectite, draperis, pearl, gordyn, dan lainnya. Bentuk serta waktu yang dibutuhkan dalam pembentukan gua kasrt sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrologi serta geologi setempat.

Habitat biota dengan fungsi ekologis penting

Salah satu biota gua (Kepiting Jacobsoni) yang ditemukan di Gua Jomblang, Gunung Kidul (Dok. Cahyo Rahmadi).

Lingkungan gua yang memiliki biomassa yang rendah (tidak ada tumbuhan yang dapat tumbuh), gelap total, kelembaban yang tinggi, serta tidak ada variasi iklim harian atau musimam membuat karakteristik ekosistem gua sangat berbeda dengan ekosistem di permukaan. Begitupula jenis-jenis fauna yang hidup didalam gua juga memiliki keunikan tersendiri. Penyesuaian bentuk organ yang dimiliki seperti antenna yang lebih panjang, mata mengecil, pigmen atau warna yang memudar bahkan transparan merupakan bentuk dari proses evolusi yang sangat panjang dari biota gua. Selain unik, biota gua juga biasanya memiliki persebaran yang terbatas atau endemisitas yang tinggi. berdasarkan hasil penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), setidaknya terdapat 100 jenis biota gua di Indonesia dan sedikitnya terdapat 30 jenis baru yang langka dan endemik.

Gua sebagai sumber air (Dok. Le Routard).

Sistem hidrologi bawah tanah yang lebih berkembang dibandingkan dengan permukaan menjadikan gua-gua di kawasan karst sebagai sumber air yang sangat penting. Selain menopang kehidupan flora fauna, juga menjadi sumber air utama bagi kehidupan masyarakat kawasan karst. Dingding-dinding bagian luar gua yang banyak dijadikan tempat tinggal burung walet juga menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat. Kelelawar yang sebagian besar menjadikan gua sebagai tempat hidupnya memiliki peran yang penting bagi penyebaran biji (regenerasi hutan). Selain itu, kehadiran kelelawar sebagai pemangsa serangga juga berperan penting dalam mengendalikan populasi serangga yang berpotensi membawa wabah penyakit.

Peninggalan bukti-bukti kehidupan pada masa lampau yang banyak dijumpai pada gua menjadikannya sebagai tempat mempelajari masa lalu. Penggunaan gua sebagai tempat berlindung serta makam pada masa lalu meninggalkan berbagai bukti yang dapat kita pelajari seperti gambar pada dinding gua, perkakas, bahkan kerangka manusia purba. Berbagai peranan tersebut menjadikan ekosistem gua karst sebagai laboratorium alam raksasa untuk berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Kerusakan ekosistem gua

Kerusakan ekosistem karst akibat penambangan batu kapur di kawasan Karst Citatah (Dok. ANTARA/Raisan Al Farisi).

Berbagai ancaman terhadap kelestarian ekositem gua karst masih terus terjadi hingga saat ini. Apalagi dari total seluruh kawasan karst di Indonesia hanya sekitar 15% saja yang dilindungi. Ancaman deforestasi berupa pembukaan lahan sebagai perkebunan maupun tambang menjadi ancaman terbesar. Pertambangan batu gamping untuk bahan baku pembuatan semen akan mempengaruhi bentukan bentang alam karst yang dampaknya mustahil untuk dipulihkan. Perubahan lahan tersebut akan menghilangnya kemampuan dan kapasitas karst sebagai penyerap dan penyimpan air. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Djakamihardja & Muhtadi pada tahun 2013 di salah satu tambang di Citeureup menunjukkan lokasi yang ditambang dan yang telah direklamasi kehilangan kemampuan menyerap air lebih dari 75% dibandingkan karst yang belum ditambang. Sedangkan karst yang sudah ditambang dan belum direklamasi hampir 99% hilang kemampuan resapan airnya. Tidak hanya berpengaruh terhadap biota gua terutama biota akuatik yang hidup didalamnya, namun juga berpengaruh terhadap ketersediaan sumber air bagi masyarakat disekitarnya.

Ratusan wisatwan padati pintu masuk Gua pindul, Gunung Kidul (Dok. Tribun Jogja/Hari Susmayanti).

Pembukaan berbagai wisata alam gua yang tidak dikelola dengan baik juga berpengaruh terhadap kelestarian ekosistem gua. Penambahan berbagai bangunan permanen seperti tangga semen serta pemasangan instalansi penerangan didalam gua dapat menganggu aktivitas biota gua. Jumlah wisatawan yang tidak dibatasi dapat memicu kerusakan ornamen-ornamen gua yang menjadi sarang biota gua. Meningkatnya intensitas cahaya yang masuk serta kebisingan yang ditimbulkan oleh wisatwan tentu saja akan sangat berpengaruh pada aktivitas biota gua yang telah terspesialisasi sesuai kondisi gua pada umumnya. Belum lagi adanya sampah yang dibawa oleh wisatawan tentu saja akan menjadi benda asing yang mencemari ekositem gua. Peningkatan sampah pada aliran sungai juga menjadi ancaman terutama yang alirannya menuju langsung ke mulut gua.

Sumber :

Be a part of SCENTS mission to save beautiful creatures from illegal wildlife trafficking

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *