Isu mengenai pencemaran oleh partikel mikroplastik telah menjadi topik yang banyak diperbincangkan. Tentu saja hal tersebut sangat berkaitan dengan kondisi sampah plastik yang semakin menggunung. Tanpa disadari, pemakaian kemasan plastik dan bahan-bahan lain yang mengandung plastik telah memicu penumpukan sampah plastik di lautan. Produksi plastik dunia mengalami peningkatan setiap tahunnya bahkan diperkirakan jumlah produksi akan meningkat 100 kali lipat pada tahun 2050 mendatang. Menurut World Bank (2015), plastik sendiri ternyata menyumbang 10% dari total sampah yang dihasilkan oleh manusia. Sebagian besar plastik yang telah digunakan, tidak didaur ulang dan langsung terbuang ke lingkungan dan pada akhirnya akan berakhir di lautan. Diperkirakan sebesar 60-80% dari sampah yang ada di laut berasal dari sampah plastik.

Apa itu mikroplastik?

Mikroplastik pertama kali diidentifikasi keberadaannya pada sekitar tahun 1970an. Mikroplastik berasal dari polimer beserta zat turunannya seperti polystyrene. Selain polimer, partikel ini juga berasal dari sampah plastik yang terdegradasi menjadi partikel yang lebih kecil dalam jangka waktu tertentu. Ukuran diameter partikel tersebut kurang dari 5 mm. Batas bawah ukuran partikel yang termasuk dalam kelompok mikroplastik belum didefinisikan secara pasti, namun kebanyakan penelitian mengambil batas bawah minimal 300 ┬Ám. partikel ini terdiri dari berbagai macam kelompok yang sangat bervariasi dalam hal ukuran, bentuk, warna, komposisi, massa jenis, dan sifat-sifat lainnya. Zat tersebut ada di lingkungan baik udara, tanah, air tawar, dan laut. Pada laut mikroplastik tersebar di pantai, perairan dangkal, bahkan perairan dalam.

Benarkah mikroplastik berbahaya?

Mikroplastik dapat terakumulasi dalam jumlah yang tinggi pada air laut dan sedimen. Ukuran mikroplastik yang sangat kecil dan jumlahnya yang banyak di lautan membuat sifatnya ubiquitous dan bioavailability bagi organisme akuatik tinggi. Akibatnya partikel tersebut dapat dengan mudah memasuki rantai makanan hewan-hewan laut dan mengontaminasi tubuh hewan tersebut. Hewan laut yang sudah terkontaminasi tersebut kemudian menjadi makanan bagi manusia. Dilansir dari National Geographic Indonesia, setiap satu ekor kerang di Eropa tercatat mengandung sekitar 90 mikroplastik. Zat tersebut juga ditemukan di hati ikan segar serta ikan kalengan. Tidak hanya pada hewan laut, di Mesiko partikel ini juga ditemukan pada ayam. Bahkan pada air mineral kemasan yang kita konsumsi juga ditemukan 2-44 mikroplastik perliter. Tak heran apabila hasil penelitian menunjukkan adanya kandungan mikroplastik dalam feses manusia.

Meskipun hasil temuan mikroplastik pada feses manusia menunjukkan bahwa zat tersebut terkonsumsi namun berhasil dikeluarkan akibat respon tubuh yang menganggapnya sebagai zat yang tidak diperlukan, namun tidak menutup kemungkinan terdapat bahan kimia berbahaya yang terserap di usus halus dan masuk kedalam peredaran darah. Hal tersebut dikarenakan sifat mikroplastik yang layaknya transporter, yaitu memiliki kecenderungan mengikat senyawa-senyawa lain seperti limbah, logam berat, deterjen, pestisida, dan racun. Sehingga ketika partikel tersebut masuk kedalam tubuh manusia, senyawa-senyawa kimia yang dibawa tersebut akan dilepaskan didalam tubuh sementara fisik mikroplastik akan keluar melalui feses karena tidak tercerna. Senyawa kimia dapat memicu kanker, degeneratif, atau gangguan pada sistem hormon.

Apa yang bisa kita lakukan?

Apa yang bisa mulai kita lakukan disaat plastik seolah menjadi salah satu kebutuhan primer yang kita gunakan hamper disegala bidang baik industri makanan dan minuman, fashion, kosmetik, bahkan industry farmasi? Tentu saja penelitian mengenai bahan organik yang bisa digunakan sebagai pengganti plastik sangat perlu untuk terus dikembangkan. Selain itu, kita juga bisa mulai mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan plastik yaitu dengan cara menggunakan kantong, tempat makan, dan tempat minum yang bisa digunakan kembali. Mengelola dan mendaur ulang sampah plastik yang kita gunakan menjadi barang yang bisa kita gunakan kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *