Macan Tutul Jawa (Javan Leopard)

Macan Tutul Jawa (Javan Leopard) memiliki nama latin Panthera pardus melas merupakan satu-satunya kucing besar di Pulau Jawa yang masih tersisa dan bertahan hingga saat ini, setelah Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dinyatakan punah oleh IUCN pada tahun 1980-an. Dibandingkan dengan macan tutul lainnya, Macan Tutul Jawa memiliki ukuran tubuh yang paling kecil, namun mempunyai indra penglihatan dan penciuman yang tajam. Satwa ini hanya hidup di Pulau Jawa, Pulau Kangean, dan Pulau Nusakambangan. Catatan mengenai persebarannya ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon di Provinsi Banten hingga Taman Nasional Alas Purwo di Provinsi Jawa Timur. Oleh karena itu, hutan-hutan di Pulau Jawa menjadi habitat utama bagi macan ini.

Pembangunan perumahan, pusat perbelanjaan, perkantoran, serta perluasan lahan pertanian dan perkebunan terus meningkat seiring bertambahnya populasi manusia. Hal tersebut memberikan tekanan yang tinggi terhadap isolasi habitat yang terjadi akibat parahnya fragmentasi hutan selama dua dekade terakhir. Persaingan akan kebutuhan lahan antara manusia dan Macan Tutul Jawa menimbulkan konflik yang parah, serta seringnya kucing besar inilah yang harus dikorbankan. Hal ini semakin diperparah dengan maraknya perburuan dan perdagangan satwa ini. Harga jual yang tinggi baik kulit, taring, dan tulangnya menjadikan satwa ini sebagai primadona target buruan. Tak mengejutkan lagi jika saat ini Macan Tutul Jawa menjadi tiga subspesies macan yang terancam punah.

Hilangnya Macan Tutul Jawa di alam

Grafik berkurangnya jumlah macan tutul dari tahun 2007-2019. Garis tren hanya mencerminkan indikasi, karena tren yang meningkat juga bisa jadi merupakan hasil peningkatan upaya pemantauan.

Meskipun ancaman kepunahan terhadap Macan Tutul Jawa baik akibat perburuan maupun konflik dengan manusia sangat tinggi, namun dirasakan masih sangat kurang mendapat perhatian baik dari pemerintah maupun penggiat konservasi. Menurut Dwi N. Adhiasto, dkk (Uncover the unrevealed data: the magnitude of Javan leopard removal from the wild, 2020), berdasarkan data yang dikumpulkan selama 2007-2019 terdapat 19 ekor yang disita dari 19 operasi penangkapan dan melibatkan 25 orang penyelundup. Dengan demikian minimal 1,3 ekor diperdagangkan setiap tahunnya. Sebagian besar satwa tersebut dijual di pasar domestik untuk dijadikan boneka (awetan kering) maupun perlengkapan ritual tradisional. Sedangkan akibat konflik dengan manusia, tercatat 87 insiden dengan 29 ekor macan yang resmi ditangkap. Dari 29 ekor yang ditangkap tersebut, 4 ekor dilepaskan secara langsung, 17 ekor mati dilokasi konflik, dan sisanya tidak muncul kembali setelah kegiatan mitigasi. Rata-rata setiap tahunnya terdapat 3,2 ekor yang tertangkap akibat konflik dengan manusia. Sehingga secara keseluruhan, rata-rata setiap tahunnya 4,6 ekor hilang dari habitat alaminya atau setidaknya 60 ekor hilang selama 13 tahun terakhir. Tentu saja jumlah tersebut masih bisa terus bertambah karena masih banyak kasus yang tidak terdata.

Upaya penyelamatan

Pengungkapan kasus perdagangan ilegal satwa salah satunya adalah Macan Tutul Jawa. Dokumentasi: Tempo.com 2012

Upaya penyelamatan atau mitigasi terhadap macan tutul yang berhasil diamankan baik dari perburuan maupun konflik dengan manusia sangatlah penting dilakukan. Saat ini upaya yang biasanya dilakukan berupa pelepasan kembali satwa tersebut di habitat alaminya, pemindahan ke lokasi baru, maupun penampungan sementara satwa ini di kebun binatang. Upaya mitigasi tersebut tentu saja belum menyelesaikan akar penyebab permasalahan yang terjadi. Infrastruktur mitigasi khusus termasuk fasilitas dan pusat rehabilitasi yang masih sedikit dan belum memadai menjadikan upaya mitigasi yang bersifat sementara dengan memasukan macan tutul ini di kebun binatang menjadi solusi utama yang dipilih. Oleh karena itu diperlukan manajemen penyelamatan yang tepat. Menurut Dwi N. Adhiasto, dkk (Uncover the unrevealed data: the magnitude of Javan leopard removal from the wild, 2020), upaya manajemen penyelamatan yang perlu dilakukan adalah:

  1. Konservasi, strategi menggunakan perlindungan habitat dan penegakan hukum sebagai dua pilar utama dengan mengimplementasikan program yang terintegrasi berupa pemantauan populasi, pencegahan kejahatan terhadap satwa tersebut, dan peningkatan deteksi perburuan dan perdagangannya;
  2. Memetakan jaringan perburuan dan perdagangan satwa ini, penentuan lokasi rawan konflik dengan manusia, dan mengidentifikasi faktor – faktor dasar yang berkontribusi terhadap perburuan dan perdagangan satwa tersebut
  3. Meningkatkan persepsi tentang satwa ini melalui program peringatan efektif yang melibatkan para pengambil keputusan, aparat hukum, serta masyarakat umum; dan
  4. Mengevaluasi peran dan kontribusi faktual kebun binatang dan Lembaga konservasi ex-situ dalam program konservasi in-situ Macan Tutul Jawa, terutama dalam mitigasi konflik antara manusia-macan tutul.

Jika anda ingin mengunduh publikasi tentang Macan Tutul Jawa dari Dwi N. Adhiasto, dkk (Uncover the unrevealed data: the magnitude of Javan leopard removal from the wild, 2020), silahkan klik disini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *