Bencana lingkungan tumpahan minyak di Indonesia sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah terjadi. Indonesia merupakan negara paling terancaman terhadap bencana tumpahan minyak jika melihat aktifitas yang terjadi diperairan Indonesia. Perairan Indonesia merupakan wilayah yang paling sering dilalui oleh kapal-kapal besar dari seluruh belahan dunia. Lebih dari 100 ribu kapal lalu-lalang melintasi Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, Selat Ombai, Selat Makassar, Selat Karimata, Laut Jawa, Laut Maluku, dan Laut Sulawesi. Kapal-kapal yang melintas di perairan Indonesia tersebut membawa minyak, gas, bahan kimia, hasil tambang atau kontainer barang. Selain kapal-kapal asing, ada pula ribuan kapal domestik berbagai ukuran yang berlayar dari satu pulau ke pulau lain. Kecelakaan dari kapal-kapal tersebut menjadi salah satu sumber bencana di perairan Indonesia. Seperti yang terjadi pada 25 Mei tahun 2010 ketika KM Bunga Kelana 3 yang mengangkut 2.500 ton minyak, bertabrakan dengan KM Wally di dekat Selat Philips. Akibatnya, minyak mentah sebanyak 2.000 ton (14.600 barel) menutupi Selat Malaka.

Salah satu satwa terdampak tumpahan minyak di Balikpapan

Selain transportasi, Indonesia juga merupakan negara yang memiliki jumlah blok migas yang banyak. pada tahun 2019 tercatat Indonesia memiliki 224 blok migas dan kurang lebih 532 anjungan lepas pantai. Pipa-pipa migas bawah laut yang membentang diperairan Indonesia juga menjadi ancaman lain bagi terjadinya tumpahan minyak karena kebocoran pipa. seperti beberapa waktu lalu terjadi di Karawang (12/7/2019) terjadi kebocoran minyak dan gas di sekitar anjungan lepas pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Juga kebocoran pipa di Balikpapan tahun 2018.

Besarnya ancaman tumpahan minyak di Indonesia juga dapat dilihat dari kasus yang terjadi sampai dengan 2019 lalu. Dari berbagai sumber diketahui bahwa kurang lebih 40 kasus tumpahan minyak sudah terjadi di Indonesia dalam dua decade terakhir. Belum lagi jika ditambah dengan perilaku kurang baik yang terkadang dilakukan pengguna kapal yang membuang oli bekas dan semacamnya ke laut.

Bagaimana dampak tumpahan minyak?

Tumpahan minyak berdampak sangat buruk bagi ekosistem laut dan pesisir. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan pencemaran ini tentu sangat banyak, mulai dari nelayan tidak dapat melaut sampai dengan kerusakan lingkungan. Dampak bagi ekosistem adalah berbagai kerusakan pada ekosistem bakau, terumbu karang, jenis-jenis biota (ikan, kerang, keong), terjadi abrasi, hilangnya benih. Merkuri juga dapat memberikan efek domino dalam pencemarannya di mana biota yang terpapar oleh Merkuri akan mengakumulasi Merkuri dalam tubuhnya dan jika manusia mengkonsumsi biota yang mengandung Merkuri manusia juga akan terkena paparan dari Merkuri tersebut. Kerusakan lingkungan akibat tumpahan minyak ini jika tidak ditangani dengan benar akan berlangsung sangat lama. Seperti halnya yang terjadi di pesisir Breton, Perancis. Hingga 40 tahun setelah bencana tumpahan minyak dari kapal tanker Amoco Cadiz, ilmuwan masih menemukan kerusakan besar pada rantai makanan ekosistem lokal. Atau di selatan Teluk Meksiko, di mana tumpahan minyak dari anjungan minyak Iztock I 1979 masih menyisakan kerusakan pada ekosistem Mangrove.

Penanganan tumpahan minyak di Indonesia bagi lingkungan dan masyarakat sekitar sudah mulai dilakukan di Indonesia namun penanganan bagi satwa-satwa terdampak t sampai saat ini belum kita ketahui telah dilaksanakan dengan baik atau belum. Dampak bencana ini bagi satwa-satwa dilokasi terdampak terkadang menjadi hal yang kurang diperhatikan karena memang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi sehingga membutuhkan spesialisasi khusus. Akan tetapi, jika tidak ditangani dengan baik, satwa terdampak ini dapat menjadi awal efek domino bagi ekosistem yang lebih besar. Selain itu dampak langsung dapat terjadi bagi satwa jika terkena minyak, mulai dari gangguan pergerakan sampai dengan kematian. jika tidak ditangani dengan benar, dampak jangka panjang dapat menyebabkan kepunahan bagi satwa-satwa tertentu seperti tersaji dalam poster berikut ini:

Saat ini SCENTS berkomitmen mendorong kerjasama dengan pihak-pihak terkait untuk memperkuat kapasitas penanganan dampak tumpahan minyak di Indonesia khususnya penanganan bagi satwa terdampak untuk menjaga kelestarian satwa dan lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *