Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdapat banyak gunung dan pegunungan. Hal tersebut dikarenakan negara kita berada pada jalur pertemuan 3 lempeng tektonik (Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik). Selain itu, Indonesia juga dilewati oleh dua jalur pegunungan muda, yaitu sirkum pasifik dan sirkum mediterania sehingga terdapat banyak gunung berapi aktif. Keberadaan gunung berapi ini menyebabkan bencana letusan gunung menjadi hal yang tidak bisa di hindari, namun kawasan pegunungan juga menyediakan ekosistem hutan yang menjadi habitat bagi jenis satwa liar serta berperan penting dalam kehidupan manusia.

Hutan pegunungan bagi kehidupan liar dan manusia

Perbedaan letak ketinggian yang cukup drastis pada kawasan gunung tentunya berakibat pada perubahan suhu, kelembaban, serta intensitas cahaya pada masing-masing lokasi. Hal tersebut menciptakan zonasi habitat yang berbeda-beda dengan berbagai macam flora fauna yang hidup didalamnya. Kawasan pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1.500 m.dpl (hutan ericaceous atau hutan gunung) umumnya di dominasi oleh semak belukar dan tanaman perdu. Hal ini tentu berbeda dengan kawasan dibawahnya yang masih memungkinkan untuk pohon-pohon tumbuh. Jenis pohon Cemara Gunung, Meranti, Puspa, Keruing, dan Damar dapat di temui pada tipe hutan dipterokarp bukit (300-750 m.dpl) dan hutan dipterokarp atas (750-1.200 m.dpl). Perbedaan ketinggian juga memberikan perbedaan mikroklimat yang besar. Secara teori, setiap kenaikan ketinggian 100 meter maka suhu akan berkurang hingga 10C. Kemampuan adaptasi tumbuhan yang berbeda-beda menyebabkan perbedaan komposisi vegetasi antara daerah yang lebih rendah dengan daerah pegunungan. Lingkungan yang spesifik ini juga dapat menjadi habitat yang penting bagi tumbuhan tertentu sehingga tidak ditemukan di kawasan lain, semisal bunga Edelweis (Anaphalis javanica) yang hanya di temukan di kawasan dengan ketinggian lebih dari 2.000 m.dpl.

Hutan pegunungan juga merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kawasan di bawahnya. Kemampuan hutan untuk menahan air agar tidak langsung mengalir di permukaan tanah membuat air akan terserap ketanah dan masuk ke sistem air tanah yang dapat keluar melalui mata air yang ada di kawasan yang lebih rendah. Ketersediaan air tersebut sangat penting bagi kehidupan manusia baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun untuk pengairan sawah yang berada disekitar kaki gunung.

Ancaman kelestariannya

Meskipun hutan memiliki peran yang sangat penting bagi lingkungan maupun manusia, namun saat ini banyak terdapat ancaman yang dapat merusak keberadaan hutan. Seiring perkembangan manusia dan juga zaman, kebutuhan akan lahan juga semakin meningkat. Pembukaan lahan untuk pertanian, perumahan, maupun hal lain yang dilakukan secara terus menerus menyebabkan kawasan hutan berkurang dengan drastis. Kawasan hutan pegunungan juga tidak lepas dari ancaman perubahan lahan. Kawasan yang subur menyebabkan banyak pembukaan hutan pegunungan untuk keperluan pertanian terutama untuk perkebunan sayur.

Kawasan pegunungan menghadirkan pemandangan yang indah dan menjadi salah satu daya tarik wisata yang di minati saat ini. Banyak kawasan gunung yang di buka untuk kegitan wisata naik gunung. Di satu gunung dapat di buka 2-3 jalur pendakian dengan cara mengubah kawasan hutan menjadi jalur-jalur pendakian. Semakin banyak peminat kegiatan rekreasi naik gunung maka bukan tidak mungkin pembukaan jalur-jalur baru marak di lakukan tanpa memperhatikan kondisi lingkungan. Selain itu, pencemaran sampah yang ditinggalkan oleh para pendaki tak bertanggungjawab turut menyebabkan kerusakan habitat di gunung. Kawasan pegunungan di Jawa bagian tengah merupakan salah satu kawasan dengan hutan yang sudah hampir habis. Sebagai contoh kawasan pegunungan Dieng terutama di kawasan wisata Dieng. Sepanjang jalur menuju kawasan wisata ini bukit-bukit dan gunung yang ada di kanan kiri jalan hampir seluruhnya telah berubah menjadi kawasan perkebunan. Kejadian bencana tanah longsor menjadi salah satu yang paling sering terjadi terutama saat musim penghujan tiba. Bila kawasan hutan semuanya telah beralih fungsi bukan tidak mungkin bencana akan lebih sering terjadi seperti longsor, banjir, maupun kekeringan. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *